HukumManadoPendidikanSulut

Desakan Audit Harta Kekayaan Ketua Senat Unsrat, Aktivis Jeffrey Sorongan: APH Harus Periksa dan Telusuri

Manado, KomentarNews.co – Dugaan kasus yang menyeret Ketua Senat UNSRAT Manado belum berhenti dan terus mencuat. Karena itu, pimpinan Perguruan Tinggi UNSRAT dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) harus menyikapi secara serius. Sebab, imbasnya berdampak pada ekosistem perkuliahan di UNSRAT sendiri. Apalagi, menjelang pemilihan rektor.

Bahkan di salah satu group WhatsApp (WA), “Aspirasi Kawanua Peduli Bangun Sulut” terlihat komentar, Pecat Saja Ketua Senatnya …..Buat Mosi Tdk Percaya Anggota Senat Unsrat Untuk Melengserkan Ketua … ” demikian komentar salah satu anggota, juga guru besar di UNSRAT, Selasa (13/10/2026) siang.

Sementara informasi dan rumor di kalangan dokter umum bahwa untuk masuk pendidikan kedokteran dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), terdapat “jalan tol” melalui Ketua Senat UNSRAT, karena ketua senat disebut memegang keputusan penerimaan mahasiswa tersebut.

Sebagaimana rilis yang diterima media ini, hari Selasa (13/10/2026), persoalan ini juga dikaitkan dengan dugaan manipulasi soal ujian masuk pada tahun 2023, dari 3.000 soal menjadi 180 soal, dengan peran ketua senat yang disebut mendominasi sebagai sumber ide.

Karena itu, muncul desakan civitas akademika UNSRAT, agar dilakukan audit terhadap harta kekayaan ketua senat selama menjabat sebagai ketua senat.

Dugaan mengenai pungli penerimaan mahasiswa, perubahan soal ujian, dan penyalahgunaan kewenangan tersebut perlu ditelusuri secara independen. Dokumen penerimaan mahasiswa, mekanisme seleksi, penetapan kelulusan, serta seluruh pembayaran resmi perlu diperiksa agar dapat diketahui apakah terdapat pelanggaran.

Pihak-pihak terkait juga perlu diberikan kesempatan untuk menjelaskan mekanisme penerimaan mahasiswa dan membantah atau mengonfirmasi informasi yang beredar.

Persoalan yang disorot civitas akademika tersebut menunjukkan pentingnya pembenahan menyeluruh dalam tata kelola Universitas Sam Ratulangi.

Setiap dugaan pelanggaran harus ditelusuri berdasarkan bukti, sementara pihak yang disebut dalam tudingan perlu diberikan ruang untuk menyampaikan klarifikasi dan hak jawab.

Kritik dari kalangan civitas akademika seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan, bukan sekadar polemik internal. Institusi pendidikan tinggi membutuhkan sistem yang menjamin keputusan akademik berdasarkan kompetensi, penggunaan anggaran berdasarkan aturan, serta kesempatan yang adil bagi seluruh dosen dan mahasiswa.

Pada akhirnya, UNSRAT diharapkan menjadi perguruan tinggi yang semakin maju, berintegritas, adil, dan mampu memberikan pendidikan berkualitas tanpa pungli maupun diskriminasi.

Aktivis Jeffrey Sorongan yang sangat peduli kemajuan di UNSRAT Manado kembali angkat bicara. Dia meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk periksa harta kekayaan ketua senat UNSRAT. Apalagi ini sudah menjadi polemik di UNSRAT. “Jadi, APH harus periksa dan telusuri harta kekayaan ketua senat UNSRAT,” tegas Sorongan.
Sorongan juga meminta pimpinan Perguruan Tinggi UNSRAT dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) untuk segera menyelesaikan polemik-polemik dari ketua senat. “Jangan karena ulah oknum ketua senat, sehingga nama baik Perguruan Tinggi UNSRAT ikut tercoreng dan menjadi rusak,” imbuh Sorongan mengingatkan.

Sementara Ketua Senat UNSRAT Prof Dr Ralph Kairupan ketika dikonfirmasi media ini, Selasa (13/10/2026) malam, lewat chat WhatsApp, tidak langsung memberi klarifikasi atau jawaban tapi menghubungi lewat telepon.
Menurutnya, apa yang ingin ditanyakan/dikonfirmasi tidak mau ditanggapi lagi, sebab semua dikembalikan kepada yang memberikan informasi itu (kalangan civitas akademika, red). Sebab, di pemberitaan sebelumnya, sudah diberikan klarifikasi sangat jelas, kemudian terkait perjalanan dinas, sudah dibantah dan hanya menggunakan SPPD. Tapi untuk kali ini, mohon maaf, tidak bisa lagi. “Saya, serahkan saja kepada yang memberikan informasi,” katanya lagi.
Bahkan, dia kembalikan ke hati nurani wartawan media ini. “Saya kembalikan ke hati nurani anda sebagai wartawan, dan saya tidak mau lagi klarifikasi atau tanggapi informasi itu,” ucap dia.

Namun lanjutnya, dengan kata-kata penuh religius, dia bersama isterinya tidak pernah melakukan suap menyuap seperti informasi yang diberikan.
Dia juga mengaku mendapat penghasilan tambahan di tiga rumah sakit meski tidak menyebut rumah sakit yang dimaksud.
Dengan polos pun, dia bertutur, hingga saat ini tetap hidup sederhana dan selalu bersyukur dengan penghasilan pas-pasan. “Maaf ya, saya ini lagi pemulihan karena sakit,” pungkasnya.(ist/*)

 

Related Articles

Back to top button